Bandung – Dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan semakin kuat. Hal ini menjadi tantangan bagi ekonomi Indonesia sampai akhir 2023 dan tahun 2024. Ada hal yang harus dilakukan perbankan nasional dan Bank Indonesia (BI).

Hal tersebut diungkapkan oleh pengamat pasar uang Junito Ahmad Haryono saat Media Gathering Perbanas di Padalarang, Bandung, Kamis, 23 November 2023.

“Untuk 2023 sampai 2024 sepertinya dolar Amerika Serikat (AS) akan tetap strong dan juga berharap masing-masing negara bisa rebalancing pertumbuhannya bisa bermain peran untuk sektor mana yang tumbuh positif,” ujar Junito.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah November 2023 Menguat 1,99 Persen, BI Beberkan Pendorongnya

Beberapa mata uang dunia, termasuk rupiah, akan mencari keseimbangan baru. Apalagi, tahun depan merupakan tahun politik dimana AS akan menggelar election year dan Indonesia ada pilpres dan pilkada.

“Overall dolar AS masih strong. Ini masih menjadi PR kita semua, stakeholders. Bagaimana bank bisa mem-provide likuiditas baik kepada masyarakat juga pengusaha sehingga menjadi kondusif untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tutur mantan Direktur Treasuri MUFG Bank itu.

Di Indonesia, kata Junito, BI harus punya agenda untuk menaikkan tingkat suku bunga. Kalau rupiah terus melemah, mau tidak mau BI harus menaikkan tingkat suku bunga. Sebab, meski rapor perekonomian Indonesia tercatat baik, Indonesia tetap akan terkena imbas.

Selain itu, kata dia, likuiditas dan kebijakan moneter masih akan ketat di tahun depan. Meski begitu, Indonesia ada harapan adanya perputaran uang dalam jumlah besar di Pemilu 2024.

“Seberapa besar? Ada yang menghitung Rp150 triliun atau 0,28 dari GDP. Gede gak sih? Ya gedelah uang segitu. Tapi kalau kita lihat, Indonesia secara tunai pasti punya uang, BI bisa mencetak uang baru Rp150-200 triliun. Jadi yang itu ada di dalam sistem, tidak di dalam kandangnya BI. Diharapkan ini bisa mendorong konsumsi,” jelasnya.

Junito berharap masing-masing negara bisa re-balancing pertumbuhannya, bisa bermain peran untuk sektor mana yang tumbuh positif. Lalu, ekonomi China sebagai motor kedua pertumbuhan ekonomi Indonesia diharapkan bisa unggul dan memulihkan negara tetangganya.

Menurut proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF), perekonomian dunia tahun 2023 dan 2024 tumbuh masing-masing 3% dan 2,9%, yang menunjukkan adanya risiko ekonomi dan geopolitik yang terus berlanjut sehingga akan menghambat laju ekonomi.

Bank Dunia (World Bank) memiliki pandangan yang lebih positif terhadap ekonomi 2024, sejalan dengan normalisasi suku bunga dan inflasi. Di sisi perekonomian domestik, Indonesia berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5%.

Baca juga: Menkeu Buka-Bukaan, Penguatan Dolar AS Hantam Rupiah dan Mata Uang Global

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan Indonesia pada kuartal II- 2023 mencapai 5,17% (year on year) yang ditopang oleh pemulihan sektor manufaktur dan stabilitas kinerja sektor pertanian. Namun, terdapat depresiasi nilai tukar rupiah yang dapat berdampak bagi sejumlah sektor industri dan perdagangan akibat kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS (The Fed).

Pertumbuhan ekonomi juga didukung oleh kinerja sektor perbankan yang saat ini stabil kendati terdapat pengetatan likuiditas global. Pada semester II-2023, rasio kecukupan modal (CAR) perbankan Indonesia terjaga pada level 27,6%, serta rasio kredit bermasalah (NPL) bruto menurun ke level 2,3%.

Penyaluran kredit yang bertumbuh sebesar 7,76% (yoy) terus mendukung aktivitas perekonomian. BI memperkirakan kredit perbankan nasional akan tetap tumbuh di tahun 2024, yaitu sekitar 8% hingga 11%. Angka tersebut kurang lebih sama dengan target tahun ini yaitu 9% hingga 11%, namun dengan batas bawah yang lebih rendah. (*) DW

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *