Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendorong perkantoran untuk kembali menerapkan kebijakan work from home (WFH) bagi karyawannya. Hal ini menyusul kualitas udara di Jakarta dan sejumlah kota di Indonesia kian memburuk dalam beberapa pekan terakhir. 

“Dan jika diperlukan, kita harus berani mendorong banyak kantor melaksanakan hybrid working, work from office, work from home,” kata Jokowi dalam Rapat Terbatas membahas peningkatan kualitas udara di Jabodetabek, dalam YouTube Sekretariat Presiden, dikutip Senin (14/8).

Baca juga: Kualitas Udara Jakarta Kian Buruk, KLHK Usul Karyawan WFH

Perbandingannya, kata Jokowi, semisal 75 banding 25 atau angka lain untuk bisa menekan penggunaan kendaraan pribadi sehingga perusahaan-perusahan bisa menerapkan sistem WFH atau hybrid working.

Ia mengatakan, buruknya kualitas udara di Jabodetabek disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain, kemarau panjang selama tiga bulan terakhir yang menyebabkan peningkatan konsentrasi polutan tinggi. 

Selain itu, faktor pembuangan emisi dari transportasi dan aktivitas industri di Jabodetabek turut menyebabkan buruknya kualitas udara di Jabodetabek dalam beberapa waktu terakhir.

Untuk itu, pemerintah saat ini menindaklanjuti dalam jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, secepatnya harus dilakukan intervensi yang bisa meningkatkan kualitas udara di Jabodetabek menjadi lebih baik.

“Kemudian juga rekayasa cuaca untuk memancing hujan di kawasan Jabodetabek, dan menerapkan regulasi untuk percepatan penerapan batas emisi EURO 5 dan EURO 6, khususnya di Jabodetabek,” ungkapnya.

Kemudian memperbanyak ruang terbuka hijau. Hal ini kata Jokowi memerlukan anggaran untuk menambah infrastruktur ruang terbuka hijau.

Dalam jangka menengah, pemerintah melaksanakan kebijakan mengurangi penggunaan kendaraan berbasis fosil. Selain itu, juga mendorong agar semua pihak segera beralih ke transportasi massal seperti Lintas Rel Terpadu (LRT), Moda Raya Terpadu (MRT), hingga kereta cepat.

“Saya kira bulan ini LRT segera dioperasionalkan, MRT juga sudah beroperasi, kemudian kereta cepat bulan depan juga sudah beroperasi, dan juga percepatan elektrifikasi kendaraan umum dengan bantuan pemerintah,” jelasnya.

Baca juga: Kualitas Udara di Tangsel Terburuk di Indonesia, Warga Disarankan Tidak Keluar Rumah

Sementara itu, untuk jangka panjang, mantan Wali Kota Solo meminta jajarannya memperkuat aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Selain itu, melakukan pengawasan terhadap sektor industri dan pembangkit listrik, terutama di sekitar Jabodetabek.

Berdasarkan, data situs pemantau kualitas udara IQAir, Jakarta disebut sebagai kota dengan udara terburuk di dunia. Di mana, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 170 atau masuk dalam kategori tidak sehat dengan polusi udara PM2.5. (*)

Editor: Galih Pratama

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *