Jakarta – Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmi Radhi menegaskan, rencana penghapusan bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite dengan pengganti Pertamax Green 92 untuk menekan emisi zat karbon dinilai belum optimal.

“Ini kebijakan yang tidak efektif dalam menekan polusi udara dan menjadi blunder bagi pemerintah,” kata Fahmi sat dihubungi Infobanknews seperti dikutip 1 September 2023.

Baca juga: Pengamat Sebut Rencana Penghapusan Pertalite Bikin APBN Jebol, Kok Bisa?

Lebih lanjut ia menjelaskan, penggunaan Pertamax Green 92 tetap saja memberikan sumbangan polusi udara karena tidak masuk dalam standar Euro 4.

Diketahui, spesifikasi sesuai standar Euro 4 adalah bahan bakar bensin dengan kadar oktan tinggi 95 hingga 98, bebas timbal dan kandungan sulfurnya maksimum 50 ppm.

Dari spesifikasi itu bisa dipastikan Pertalite bukan bahan bakar mobil Euro 4 karena kadar oktannya lebih rendah yakni berada diangka 92.

“Saat ini pertamax yang masuk standar Euro 4 adalah Pertamax Turbo yang menjadi produk unggulan Pertamina,” jelasnya.

Pertamax Turbo sendiri memiliki kandungan RON 98 dan kandungan sulfurnya content di bawah 50 ppm sehingga Pertamax Turbo bisa menghasilkan gas buang dengan kadar karbon rendah​.

Baca juga: Berapa Harga Pertamax Green 92 yang Gantikan Pertalite, Ini Jawaban Bos Pertamina

Sebaiknya kata dia, Pertamina untuk fokus pengembangan program energi terbarukan dalam mencapai Net Zero Emission, antara lain melalui pengembangan PLTP, pemanfaatan Biosolar yang akan memulai implementasi Bioetanol pada Semester II 2023 ini.

Termasuk produk Gasoline dan Gasoil. Untuk Gasoline misalnya BBM memiliki angka RON (Research Octane Number) berbeda mulai dari RON 88 sampai 100. (*)

Editor: Rezkiana Nisaputra

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *